Aliansi APBB Resmi Berakhir, KSPSI-KSBSI-FSPMI Kalsel Tegaskan Tetap Bersinergi

Pembubaran APBB menjadi titik akhir sebuah wadah aliansi, sekaligus membuka ruang baru bagi KSPSI, KSBSI dan FSPMI Kalsel untuk memperkuat komunikasi serta sinergi perjuangan pekerja di Banua.

BANJARMASIN, POSTKalimantan – Aliansi Pekerja Buruh Banua (APBB) resmi mengakhiri keberadaannya. Pembubaran wadah bersama sejumlah elemen serikat pekerja dan buruh di Kalimantan Selatan itu berlangsung di Sekretariat Bersama APBB, Jalan Cempaka Besar, Kecamatan Banjarmasin Tengah, Sabtu (19/9/2026).

Prosesi pembubaran berlangsung sekitar pukul 11.20 hingga 12.20 Wita. Hadir dalam kegiatan tersebut perwakilan tiga organisasi yang sebelumnya berada dalam APBB, yakni DPD KSPSI Kalsel, DPD KSBSI Kalsel, dan DPW FSPMI Kalsel.

Berakhirnya APBB merupakan tindak lanjut dari surat pengunduran diri yang sebelumnya disampaikan masing-masing serikat pekerja dari keanggotaan aliansi tersebut.

Ketua DPD KSPSI Kalsel, H. Sadin Sasau, mengatakan pembubaran APBB merupakan keputusan yang telah melalui proses dan menjadi penyelesaian resmi atas keberadaan organisasi tersebut.

Dengan keputusan itu, APBB secara resmi tidak lagi menjadi wadah bersama bagi ketiga organisasi serikat pekerja tersebut.

Namun, berakhirnya APBB tidak serta-merta memutus hubungan antarsesama elemen pekerja.

Ketua DPD KSBSI Kalsel, Mesdi, menegaskan pentingnya menjaga komunikasi dan hubungan baik di antara serikat pekerja meskipun tidak lagi berada dalam satu wadah aliansi.

Menurutnya, perbedaan organisasi tidak seharusnya menghilangkan semangat kebersamaan dalam memperjuangkan kepentingan pekerja dan buruh di Kalimantan Selatan.

Pesan serupa disampaikan Sekretaris DPW FSPMI Kalsel, Sudarsih. Ia menyebut masing-masing organisasi selanjutnya akan menjalankan aktivitas serta agenda perjuangan berdasarkan garis dan mekanisme organisasinya masing-masing.

Meski demikian, koordinasi dan komunikasi tetap diperlukan, terutama dalam membangun hubungan industrial yang kondusif di Kalimantan Selatan.

Pembubaran APBB pun menjadi momentum perubahan pola kebersamaan. Jika sebelumnya tiga organisasi berhimpun dalam satu wadah aliansi, kini masing-masing kembali bergerak dengan identitas organisasi sendiri, namun tetap membuka ruang untuk berkoordinasi dalam berbagai persoalan ketenagakerjaan.

Dengan demikian, pembubaran APBB bukan semata-mata menjadi akhir sebuah organisasi, tetapi juga menjadi titik baru bagi hubungan antarsesama serikat pekerja di Banua.

Komunikasi, koordinasi dan sinergi tetap menjadi bagian penting agar kepentingan pekerja dan buruh dapat terus disuarakan melalui jalur organisasi masing-masing.

Para pihak juga berharap perbedaan wadah tidak berkembang menjadi sekat dalam membangun hubungan antarelemen pekerja. Sebaliknya, komunikasi yang tetap terjaga diharapkan dapat mendukung terciptanya hubungan industrial yang sehat, kondusif dan berkeadilan di Kalimantan Selatan.

Dengan dibubarkannya APBB, tiga serikat pekerja tersebut kini melanjutkan agenda organisasinya masing-masing. Namun satu hal tetap menjadi titik temu: menjaga komunikasi dan membuka ruang sinergi untuk kepentingan pekerja dan buruh di Banua. (Pk)