Program bertema desa sehat dan penguatan ekonomi lokal dinilai relevan dengan kebutuhan masyarakat. Pemkab Tala membuka peluang kolaborasi lanjutan bersama perguruan tinggi.
PELAIHARI, POSTKalimantan – Penutupan Kuliah Kerja Nyata–Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM) Universitas Borneo Lestari (UNBL) di Kabupaten Tanah Laut (Tala) bukan sekadar seremoni akhir pengabdian mahasiswa.
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tala justru melihat momentum tersebut sebagai pintu masuk untuk memperkuat kolaborasi antara pemerintah daerah, perguruan tinggi dan masyarakat dalam mendorong pembangunan desa yang lebih berkelanjutan.
KKN-PPM Tahun Akademik 2026/2027 UNBL sebelumnya dilaksanakan di sejumlah desa yang berada di Kecamatan Panyipatan, Batu Ampar dan Takisung.
Penutupan kegiatan berlangsung di Aula Rakat Manuntung Hutan Jati, Senin (24/8/2026), dan dihadiri Staf Ahli Bupati Tala Bidang Pemerintahan, Hukum dan Politik, Abdillah, yang mewakili Bupati Tanah Laut.

Dalam kesempatan tersebut, Abdillah menyampaikan apresiasi Pemkab Tala kepada UNBL yang telah memilih sejumlah desa di Tanah Laut sebagai lokasi pelaksanaan KKN-PPM.
Menurutnya, kehadiran mahasiswa di tengah masyarakat tidak hanya memberikan pengalaman praktis bagi mahasiswa, tetapi juga dapat menjadi bagian dari upaya menjawab kebutuhan pembangunan di tingkat desa.
“Atas nama Pemkab Tala, kami menyampaikan apresiasi dan penghargaan kepada Universitas Borneo Lestari yang telah memilih sejumlah desa di Tala sebagai lokasi pelaksanaan KKN-PPM,” ujarnya.
Jangan Berhenti pada Laporan
KKN-PPM UNBL mengusung tema “Desa Sehat Berdaya: Inovasi Layanan Kesehatan dan Pemberdayaan Ekonomi Lokal.”
Tema tersebut dinilai memiliki keterkaitan erat dengan kebutuhan masyarakat desa, khususnya dalam meningkatkan kesadaran kesehatan sekaligus mengoptimalkan potensi ekonomi lokal.
Abdillah menegaskan, KKN idealnya tidak hanya dipandang sebagai kewajiban akademik mahasiswa. Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi ruang untuk menguji pengetahuan sekaligus membangun kemampuan mahasiswa dalam berinteraksi dan bekerja bersama masyarakat.
“KKN merupakan ruang bagi mahasiswa untuk menerapkan ilmu yang diperoleh di bangku kuliah dalam kehidupan nyata, sekaligus belajar tentang kepemimpinan, gotong royong, komunikasi dan bagaimana bekerja bersama masyarakat,” katanya.
Karena itu, ia mengingatkan agar berbagai program yang telah dijalankan selama KKN tidak berhenti setelah mahasiswa kembali ke kampus.
“Jangan biarkan KKN hanya menjadi sebuah laporan akademik. Jadikan setiap program yang telah dilaksanakan sebagai bagian dari kontribusi nyata bagi kemajuan desa,” tegasnya.
Pesan tersebut menjadi penting agar inovasi dan edukasi yang telah diperkenalkan mahasiswa dapat diteruskan oleh masyarakat maupun pemerintah desa sesuai kebutuhan dan potensi masing-masing wilayah.
Pemkab Buka Kolaborasi Lebih Luas
Pemkab Tala juga menegaskan komitmennya untuk membuka ruang kerja sama yang lebih luas dengan perguruan tinggi.
Kolaborasi tersebut dapat dikembangkan dalam berbagai sektor, mulai dari pendidikan, kesehatan, pemberdayaan masyarakat, inovasi hingga penguatan ekonomi lokal.
Menurut Abdillah, berakhirnya masa KKN tidak semestinya menjadi batas hubungan antara mahasiswa, perguruan tinggi, pemerintah daerah dan masyarakat.
“Penutupan KKN bukan berarti berakhirnya hubungan antara mahasiswa, perguruan tinggi, pemerintah daerah dan masyarakat. Justru kami berharap kegiatan ini menjadi awal dari terbangunnya kerja sama yang lebih luas dan berkelanjutan,” tambahnya.
Ia berharap perguruan tinggi dapat terus mengambil bagian dalam pembangunan daerah melalui gagasan, riset, inovasi maupun program pemberdayaan yang benar-benar menyentuh kebutuhan masyarakat.
Bagi Pemkab Tala, pembangunan desa membutuhkan kolaborasi banyak pihak. Pemerintah tidak dapat berjalan sendiri tanpa dukungan masyarakat, dunia pendidikan dan berbagai elemen lainnya.
Karena itu, sinergi antara kampus dan pemerintah daerah diharapkan tidak berhenti pada momentum KKN, tetapi berkembang menjadi kemitraan jangka panjang yang mampu melahirkan program konkret dan memberikan dampak nyata bagi desa.
“Kami mengajak seluruh pihak untuk terus memperkuat sinergi dan gotong royong dalam mewujudkan desa yang sehat, mandiri, produktif dan berdaya saing,” ujarnya.
Abdillah menegaskan, keberhasilan pembangunan pada akhirnya bukan hanya diukur dari banyaknya program yang dilaksanakan, tetapi dari seberapa besar manfaat yang dirasakan masyarakat.
“Karena pembangunan yang kuat adalah pembangunan yang tumbuh bersama masyarakat,” pungkasnya. (MN)


















