Kabupaten Tapin meraih juara pertama kategori Tradisional Umum, sementara Soni asal Yogyakarta keluar sebagai juara Eksebisi Modern. Festival Layang-Layang Nasional 2026 di Pantai Batakan Baru, Tanah Laut, resmi ditutup Wabup Muhammad Zazuli, sekaligus menjadi ajang solidaritas bagi warga terdampak karhutla.
TANAH LAUT, POSTKalimantan – Festival Lomba Layang-Layang Tingkat Nasional 2026 di Pantai Batakan Baru, Kabupaten Tanah Laut (Tala), resmi berakhir pada Minggu (25/10/2026). Di balik persaingan menerbangkan layang-layang dan perebutan gelar juara, festival ini juga menghadirkan pesan kepedulian bagi masyarakat yang terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Penutupan kegiatan dilakukan Wakil Bupati Tanah Laut, H. Muhammad Zazuli. Festival yang berlangsung selama dua hari, sejak Sabtu (24/10/2026), tersebut menjadi ajang pertemuan para pelayang dari berbagai daerah di Indonesia, bahkan melibatkan peserta dari negara tetangga.
Persaingan berlangsung dalam empat kategori perlombaan. Sejumlah peserta menunjukkan kemampuan terbaiknya, dengan Kabupaten Tapin berhasil meraih juara pertama pada kategori Tradisional Umum.
Sementara itu, Soni, peserta asal Yogyakarta, keluar sebagai juara pertama pada kategori Layang-Layang Eksebisi Modern.
Hasil tersebut menambah semarak festival yang tidak hanya menjadi ruang kompetisi, tetapi juga sarana mempererat persaudaraan antarpelayang sekaligus memperkenalkan potensi wisata Pantai Batakan Baru kepada khalayak yang lebih luas.
Dalam sambutannya, Wabup Muhammad Zazuli menyampaikan apresiasi kepada panitia, peserta, dan seluruh pihak yang telah berkontribusi menyukseskan kegiatan, termasuk dalam penggalangan dana kemanusiaan untuk warga terdampak karhutla di Tanah Laut.
Menurut Zazuli, sebuah festival akan memiliki makna lebih besar ketika kegembiraan yang tercipta juga membawa manfaat bagi masyarakat yang sedang menghadapi kesulitan.
“Saya menyampaikan penghargaan kepada seluruh pihak yang telah ikut berpartisipasi dalam penggalangan dana kemanusiaan tersebut. Kita ingin kegembiraan dalam sebuah festival tidak hanya dirasakan oleh mereka yang hadir di tempat ini, tetapi juga dapat memberikan manfaat bagi masyarakat yang sedang menghadapi kesulitan,” ujar Zazuli.
Semangat kebersamaan dalam festival tersebut turut diwujudkan melalui penggalangan dana kemanusiaan. Dari kegiatan ini, panitia berhasil menghimpun donasi sekitar Rp3 juta untuk membantu masyarakat Tanah Laut yang terdampak karhutla.
Meski nominalnya tidak besar, donasi tersebut menjadi wujud kepedulian peserta dan seluruh pihak yang terlibat. Kegiatan ini sekaligus menunjukkan bahwa ruang kebudayaan, olahraga, dan rekreasi dapat menjadi sarana untuk menumbuhkan solidaritas sosial.
Penyelenggaraan festival juga mendapat apresiasi dari Ketua Perkumpulan Pelayang Indonesia (Pelangi), Sari Madjid, yang turut hadir dalam kegiatan tersebut.
Pemerintah Kabupaten Tanah Laut berharap Festival Lomba Layang-Layang Tingkat Nasional dapat terus dikembangkan sebagai agenda yang memberikan manfaat berkelanjutan, mulai dari promosi potensi daerah, penguatan pariwisata, hingga mempererat hubungan antarpelayang dari berbagai wilayah.
Lebih dari sekadar perlombaan, festival di Pantai Batakan Baru ini menjadi pengingat bahwa kebersamaan dapat dibangun melalui berbagai cara. Layang-layang yang menghiasi langit Tanah Laut bukan hanya menghadirkan hiburan dan persaingan, tetapi juga membawa pesan gotong royong serta kepedulian terhadap sesama. (MN)
















