
POSTKAL – KOTABARU. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kotabaru mengimbau seluruh jajaran pemerintah kecamatan, pemerintah desa, elemen masyarakat, dunia usaha, akademisi, hingga insan pers untuk memperkuat Ketahanan Bencana (Kestana) dan mewujudkan Desa Tangguh Bencana (Destana), khususnya dalam menghadapi ancaman bencana kekeringan.
Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Kabupaten Kotabaru, Hj. Melinda Ratna Agustina, S.STP., M.IP., menekankan bahwa penanggulangan kekeringan tidak bisa lagi sekadar mengandalkan bantuan distribusi air dari pemerintah saat krisis terjadi. Diperlukan langkah mendesentralisasikan ketahanan air hingga ke tingkat desa agar setiap wilayah mampu mengenali potensi sumber airnya, menjaga kelestarian lingkungan, dan memetakan langkah adaptasi sejak dini.
”Jangan sampai kita baru mencari air ketika air sudah habis. Setiap desa perlu tahu di mana sumber airnya, siapa yang menjaganya, berapa kebutuhan masyarakatnya, dan apa rencana penanganannya jika sumber air berkurang atau mengering. Inilah inti Kestana—masyarakat tidak hanya menjadi penerima bantuan saat bencana, tetapi menjadi bagian aktif dari sistem pengurangan risiko bencana,” tegas Hj. Melinda, Kalak BPBD Kotabaru.
Untuk mewujudkan hal tersebut, BPBD Kotabaru mendorong agar strategi kolaborasi Pentahelix dapat diterjemahkan menjadi aksi nyata di lapangan oleh lima pilar utama:
1. Pemerintah (Kecamatan & Desa): Melakukan identifikasi desa atau dusun yang rawan kekeringan, memetakan kebutuhan serta ketersediaan air, menginventarisasi sumber air (embung, sumur, sungai, dan mata air), serta menyiapkan sarana prasarana dan skema distribusi air bersih saat krisis.
2. Masyarakat: Aktif mengidentifikasi dan menjaga kelestarian mata air, merawat vegetasi di daerah resapan air, menghindari pembukaan lahan atau penebangan di sekitar kawasan sumber air, membiasakan pola hemat air, menampung air hujan, serta membangun kesiapsiagaan tingkat desa.
3. Swasta / Perusahaan: Menyalurkan program Corporate Social Responsibility (CSR) untuk memperkuat ketahanan air masyarakat, mendukung penyediaan air baku, serta membantu pembangunan sumur bor, tandon, embung, atau sarana konservasi air sesuai ketentuan.
4. Akademisi: Mendukung melalui pemetaan potensi sumber air dan kondisi hidrogeologi, mengkaji teknologi penyediaan air bersih yang efisien, serta memberikan edukasi konservasi kepada masyarakat.
5. Media: Berperan aktif mengedukasi masyarakat mengenai kampanye penghematan air, mengangkat kisah sukses atau potensi lokal dalam menjaga sumber air, serta menjadi jembatan informasi yang akurat antara pemerintah dan masyarakat.
Mengusung motto “Kenali sumber airnya, jaga lingkungannya, siapkan masyarakatnya”, BPBD Kabupaten Kotabaru berkomitmen untuk terus mendampingi dan memfasilitasi setiap wilayah menuju Kotabaru yang tangguh dan siap menghadapi dampak perubahan iklim serta ancaman kekeringan. (Rizky)










