Berbekal pengalaman perkaderan dan kepemimpinan berjenjang, Fery Setiadi membawa isu penguatan kader, keadilan sosial, ekologi hingga literasi digital ke arena Muktamar IMM XXI.
BANJARMASIN, POSTKalimantan – Muktamar Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) XXI mulai menjadi perhatian kader di berbagai daerah. Forum permusyawaratan tertinggi organisasi tersebut tak hanya menjadi momentum pergantian kepemimpinan, tetapi juga ruang untuk menentukan arah gerakan IMM menghadapi tantangan zaman.
Dari Kalimantan Selatan, nama Fery Setiadi mencuat dalam dinamika bursa calon Formatur Dewan Pimpinan Pusat (DPP) IMM.
Fery menyatakan kesiapan untuk maju sebagai calon Formatur pada Muktamar IMM XXI. Langkah tersebut sekaligus menjadi ikhtiar membawa pengalaman dan aspirasi kader dari Banua ke dalam forum kepemimpinan IMM di tingkat nasional.
Bukan tanpa bekal. Perjalanan Fery di IMM ditempa melalui tahapan perkaderan yang berlangsung secara berjenjang, mulai dari Darul Arqam Dasar (DAD), Darul Arqam Madya (DAM), hingga Darul Arqam Paripurna (DAP).
Pengalaman perkaderan tersebut kemudian berjalan beriringan dengan keterlibatannya dalam berbagai jenjang kepemimpinan organisasi. Dari tingkat komisariat hingga daerah, pengalaman itu memberikan ruang bagi Fery untuk bersentuhan langsung dengan dinamika organisasi sekaligus memahami kebutuhan kader di lapangan.
Dukungan terhadap pencalonannya juga datang dari sejumlah kader dan alumni IMM Kalimantan Selatan. Kehadiran Fery dalam bursa Formatur dinilai membuka ruang bagi aspirasi kader daerah untuk ikut dibawa dalam percaturan organisasi di tingkat pusat.
Salah satu kader DPD IMM Kalsel menyebut Fery memiliki perpaduan pengalaman intelektual, organisatoris dan keagamaan yang dibutuhkan dalam dinamika kepemimpinan organisasi.
“Fery Setiadi adalah sosok yang tepat. Dia perpaduan antara intelektual, organisatoris, dan agamis. Dia tahu betul apa yang dibutuhkan kader di daerah, terutama di luar Jawa,” ujarnya, Kamis (17/9/2026).
Jika memperoleh amanah dalam kepemimpinan DPP IMM, sejumlah isu strategis menjadi perhatian yang ingin didorong Fery. Di antaranya penguatan kapasitas kader, keadilan sosial, krisis ekologi serta peningkatan literasi digital mahasiswa.
Gagasan tersebut berangkat dari tantangan yang kini dihadapi mahasiswa dan organisasi kepemudaan yang terus berubah seiring perkembangan sosial dan teknologi.
IMM dituntut tidak hanya mampu menjaga tradisi intelektual dan perkaderan, tetapi juga menghadirkan respons konkret terhadap berbagai persoalan masyarakat.
Bagi Fery, Muktamar bukan semata-mata arena menentukan siapa yang akan mengisi struktur kepemimpinan. Lebih dari itu, forum tersebut menjadi ruang strategis untuk membaca perubahan zaman dan merumuskan kembali arah perjuangan IMM agar tetap relevan dengan kebutuhan kader serta masyarakat.
Kesiapan Fery maju sebagai calon Formatur DPP IMM pun menjadi bagian dari proses tersebut. Dari Banua, ia membawa pengalaman organisasi sekaligus aspirasi kader daerah untuk dipertemukan dengan dinamika gerakan IMM secara nasional.
Selanjutnya, keputusan mengenai formasi kepemimpinan dan arah gerakan IMM akan ditentukan melalui mekanisme Muktamar IMM XXI yang dijadwalkan berlangsung di Kalimantan Selatan pada Desember 2026.
Forum tersebut akan mempertemukan kader dan peserta muktamar dari berbagai daerah untuk membahas sekaligus menentukan arah kepemimpinan IMM pada periode mendatang. (Pk)
















