Silaturahmi pascakepulangan menjadi momentum evaluasi penyelenggaraan haji sekaligus penguatan peran jamaah sebagai teladan di tengah masyarakat.
PELAIHARI, POSTKalimantan – Kepulangan dari Tanah Suci bukan menjadi akhir dari perjalanan spiritual para jamaah haji. Justru setelah kembali ke kampung halaman, nilai-nilai ibadah selama berada di Makkah dan Madinah dituntut untuk tercermin dalam kehidupan sehari-hari.
Pesan tersebut disampaikan Wakil Bupati Tanah Laut, HM Zazuli, saat menghadiri Silaturahmi dan Pembinaan Pascakedatangan Jamaah Haji Kabupaten Tanah Laut Tahun 2026 M/1448 H di Masjid As Syuhada Pelaihari, Kamis (8/10/2026).
Menurut Zazuli, predikat haji mabrur tidak cukup hanya dimaknai sebagai keberhasilan menyelesaikan seluruh rangkaian ibadah haji. Kemabruran harus terus dijaga dan diwujudkan melalui perubahan sikap, kepedulian sosial, serta kontribusi positif di lingkungan masing-masing.
“Atas nama Pemerintah Kabupaten Tanah Laut dan seluruh masyarakat, kami mengucapkan selamat datang kembali di kampung halaman. Kami bersyukur Bapak dan Ibu sekalian dapat kembali berkumpul bersama keluarga dalam keadaan selamat dan sehat,” ujar Zazuli.
Ia berharap pengalaman spiritual yang diperoleh selama menjalankan ibadah di Tanah Suci tidak berhenti ketika jamaah kembali ke rumah.
Sebaliknya, pengalaman tersebut diharapkan menjadi energi untuk semakin aktif memakmurkan masjid, mempererat persaudaraan, meningkatkan kepedulian terhadap sesama, serta memberikan keteladanan di tengah masyarakat.
“Pembinaan pada hari ini bukan sekadar agenda seremonial, tetapi bagaimana nilai-nilai kemabruran haji senantiasa terjaga dan dapat diwujudkan secara nyata,” tegasnya.
Evaluasi Penyelenggaraan Haji
Selain menjadi ajang silaturahmi, kegiatan tersebut juga dimanfaatkan sebagai ruang evaluasi terhadap pelaksanaan ibadah haji tahun 2026.
Perwakilan panitia penyelenggara, Ikhwansyah, menyampaikan bahwa jamaah haji asal Tanah Laut tahun ini terbagi dalam dua kelompok terbang, yakni Kloter 09 dan Kloter 18.
Dalam evaluasi tersebut, sejumlah hal menjadi perhatian untuk penyelenggaraan haji berikutnya. Di antaranya peningkatan kualitas bimbingan manasik serta penguatan pendampingan terhadap jamaah lanjut usia, jamaah risiko tinggi, dan penyandang disabilitas.
Evaluasi itu diharapkan menjadi bahan perbaikan agar pelayanan dan pendampingan jamaah pada masa mendatang semakin optimal.
Kemabruran Terlihat dari Perubahan Sikap
Sementara itu, Ketua Ikatan Persaudaraan Haji Kabupaten Tanah Laut, KH Mukri Yunus, mengingatkan bahwa kemabruran haji semestinya dapat dikenali dari perubahan perilaku seseorang setelah kembali dari Tanah Suci.
Menurutnya, nilai kemabruran antara lain tercermin melalui tutur kata yang semakin baik, kepedulian sosial yang meningkat, serta kemampuan menjaga hati dari rasa dengki dan sikap buruk terhadap sesama.
Dengan demikian, keberadaan para jamaah haji di tengah masyarakat diharapkan tidak hanya menjadi simbol keberhasilan menunaikan rukun Islam kelima, tetapi juga membawa perubahan positif bagi lingkungan sekitarnya.
Kegiatan tersebut turut dihadiri unsur Forkopimda, jajaran Kementerian Agama, Kantor Kementerian Haji dan Umrah, serta perangkat daerah terkait.
Silaturahmi kemudian ditutup dengan doa bersama.
Pemkab Tanah Laut berharap pembinaan pascahaji dapat terus dilakukan secara berkelanjutan. Dengan begitu, semangat dan nilai-nilai yang diperoleh selama berada di Tanah Suci dapat terus terpelihara dan diwujudkan dalam kehidupan bermasyarakat.
Haji boleh selesai. Namun, menjaga kemabruran adalah perjalanan yang diharapkan berlangsung sepanjang hayat. (MN)


















