Dari tugu kecil dengan jam di masa lalu, kawasan Nol Kilometer Pelaihari kini ditata menjadi ruang publik modern yang sarat sejarah, filosofi, dan identitas Tanah Laut.
PELAIHARI, POSTKalimantan – Wajah kawasan Nol Kilometer Pelaihari, Kabupaten Tanah Laut (Tala), kini berubah drastis.
Tugu yang selama ini menjadi penanda kawasan tersebut tampil dengan wajah baru. Berdiri megah dengan permainan cahaya lampu, ikon baru ini resmi diperkenalkan kepada masyarakat dalam sebuah seremoni peresmian, Jumat (2/10/2026) malam.
Peresmian Tugu Nol Kilometer yang berada di kawasan Taman Nol Kilometer itu dilakukan langsung Bupati Tanah Laut H. Rahmat Trianto bersama Wakil Bupati H. Muhammad Zazuli.
Prosesi peresmian diawali dengan adat batapung tawar, sebagai simbol rasa syukur sekaligus doa agar pembangunan dan pemanfaatan kawasan tersebut membawa keselamatan serta keberkahan.
Setelah prosesi adat, Bupati Rahmat Trianto melakukan penandatanganan plakat sebagai penanda resmi dibukanya wajah baru kawasan Nol Kilometer Pelaihari.
Dari Kenangan Masa Kecil Menjadi Ikon Kota
Bagi Wakil Bupati H. Muhammad Zazuli, perubahan tersebut bukan sekadar pembangunan fisik.
Ada memori masa lalu yang ikut hidup kembali di kawasan tersebut.

Zazuli mengenang, pada masa kecilnya, kawasan Nol Kilometer hanya ditandai sebuah tugu sederhana dengan jam di bagian atas.
“Dulu ada tugu kecil yang ada jamnya. Tingginya sekitar dua meter. Alhamdulillah sekarang sudah terlihat megah, sesuai dengan perkembangan zaman,” ujar Zazuli.
Kenangan itu kini seolah menemukan bentuk baru.
Tugu sederhana yang dahulu menjadi bagian dari lanskap Pelaihari ditransformasikan menjadi sebuah ikon kawasan yang dirancang mengikuti perkembangan wajah kota.
Karena itu, pembangunan Tugu Nol Kilometer tidak hanya berbicara tentang bangunan baru, tetapi juga bagaimana sebuah ruang kota menyimpan cerita dan kemudian dihidupkan kembali dalam bentuk yang lebih modern.
Tak Sekadar Megah, Sarat Filosofi Tanah Laut
Kepala DPRKPLH Tala, Gusti Dwi Erzandi, menjelaskan, pembangunan kawasan Nol Kilometer dirancang dengan memadukan unsur sejarah, identitas daerah, estetika, sekaligus kebutuhan ruang publik masyarakat.
Menurutnya, kawasan tersebut memiliki nilai historis tersendiri bagi Tanah Laut.
Bahkan, lokasi itu memiliki keterikatan personal dengan Wakil Bupati Zazuli karena pernah menjadi lingkungan tempat tinggal keluarganya.
“Dulu di depan kita persis ini merupakan rumah tinggal beliau. Artinya, kita mengenang kembali yang dulu, kemudian kita sulap menyesuaikan kondisi zaman sekarang,” jelas Erzandi.
Ia menuturkan, keberadaan Nol Kilometer menjadi penting karena kawasan tersebut merupakan salah satu penanda geografis Kabupaten Tanah Laut.
Karena itu, desain tugu dibuat dengan konsep yang relatif minimalis, namun tetap memiliki karakter kuat sehingga mudah dikenali sebagai salah satu ikon Pelaihari.
Salah satu unsur yang ditonjolkan adalah simbol kijang.
Filosofi tersebut menjadi bagian dari identitas desain sekaligus menggambarkan semangat kebersamaan dan gerak maju Tanah Laut.
Tak hanya bentuk visual, tugu tersebut juga dilengkapi elemen yang dapat bergerak atau berputar.
Pada malam hari, elemen tersebut direncanakan beroperasi sekitar pukul 19.00 hingga 23.00 WITA, sehingga memberikan efek visual sekaligus memperkuat daya tarik kawasan ketika malam.
Disiapkan Jadi Ruang Publik dan Daya Tarik Baru
Penataan Nol Kilometer juga tidak berdiri sendiri.
Kawasan tersebut dirancang terintegrasi dengan konsep penataan kawasan Balairung, sehingga diharapkan membentuk ruang terbuka yang lebih hidup dan dapat digunakan masyarakat.
Menurut Erzandi, konsep tersebut membawa pesan bahwa ruang kota bukan hanya milik pemerintah, tetapi juga menjadi ruang perjumpaan antara pemerintah dan masyarakat.
“Artinya Tanah Laut dan pimpinannya itu menyatu dengan masyarakat,” katanya.
Penataan kawasan Nol Kilometer sekaligus menjadi bagian dari upaya mempercantik wajah perkotaan Pelaihari.
Namun, pekerjaan penataan kota tidak berhenti pada pembangunan tugu.
Pemerintah juga menyiapkan langkah lanjutan untuk mengurangi kesemrawutan kabel listrik yang masih terlihat di sejumlah kawasan.
“Kita ke depannya menghilangkan kabel-kabel listrik yang berseliweran supaya lebih tertata rapi. Tampilan kota juga bisa dipercantik,” ujarnya.
Kota Tua Pelaihari Ikut Dilirik
Lebih jauh, pemerintah juga membuka peluang penataan kawasan kota tua di sekitar Nol Kilometer.
Jika terealisasi, kawasan tersebut tidak hanya berfungsi sebagai penanda geografis, tetapi dapat berkembang menjadi ruang publik sekaligus salah satu titik kunjungan masyarakat dan wisatawan.
Harapannya, wajah baru Nol Kilometer dapat menjadi bagian dari identitas baru Kota Pelaihari—menghubungkan sejarah masa lalu dengan kebutuhan ruang kota masa kini.
“Harapan kami nanti bisa dipoles lagi sehingga lebih menambah daya tarik untuk berwisata ke Kabupaten Tanah Laut,” pungkas Erzandi.
Dengan berdirinya wajah baru Tugu Nol Kilometer, Pelaihari kini memiliki satu lagi ruang kota yang bukan hanya menawarkan estetika, tetapi juga membawa cerita tentang perjalanan sebuah kawasan dari masa lalu menuju masa depan. (MN)


















