Hampir 70 peserta tampil memukau membawa ragam budaya Nusantara. Pemkab Tala dorong TEC menjadi event budaya terbesar hingga melibatkan kabupaten/kota se-Kalsel.
PELAIHARI, POSTKalimantan – Jalan H. Boejasin, Pelaihari, mendadak berubah menjadi panggung budaya raksasa. Ribuan warga memadati ruas jalan tersebut untuk menyaksikan kemeriahan Tanah Laut Ethnic Carnival (TEC) II Tahun 2026, Sabtu (15/8/2026).
Mengusung tema “Unity in Diversity”, karnaval budaya yang digelar Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Tanah Laut itu menjadi salah satu rangkaian peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Deretan peserta tampil dengan busana penuh warna, ornamen tradisional, hingga kreasi yang mengangkat identitas budaya berbagai suku. Antusiasme masyarakat pun terlihat sejak kegiatan dimulai hingga seluruh rangkaian karnaval berakhir.
Bupati Tanah Laut H. Rahmat Trianto mengapresiasi tingginya partisipasi masyarakat dalam pelaksanaan TEC tahun ini.
Menurutnya, peningkatan jumlah peserta menunjukkan bahwa karnaval budaya tersebut mulai mendapat tempat di tengah masyarakat. Jika pada pelaksanaan sebelumnya peserta berada di kisaran 50, tahun ini jumlahnya meningkat hingga hampir 70 peserta.
“Ini merupakan kegiatan tahunan dan kali kedua kita melaksanakan karnaval seperti ini. Jumlah pesertanya meningkat, dari sekitar 50 menjadi hampir 70. Ini menunjukkan semangat masyarakat untuk berpartisipasi,” ujarnya.

Rahmat berharap TEC tidak berhenti sebagai agenda tahunan Kabupaten Tanah Laut. Ke depan, event tersebut diharapkan berkembang menjadi festival budaya yang melibatkan daerah lain di Kalimantan Selatan.
Dengan keterlibatan kabupaten dan kota se-Kalsel, TEC dinilai berpotensi menjadi magnet baru bagi wisatawan sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat.
“Harapannya tahun depan bisa melibatkan kabupaten/kota lain di Kalimantan Selatan, sehingga menjadi event yang lebih besar dan bisa mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat,” katanya.
Bagi Pemkab Tala, keberagaman bukan sekadar warna dalam kehidupan sosial, tetapi merupakan modal penting dalam membangun daerah.
Banjar, Jawa, Bugis, Sunda dan berbagai latar budaya lainnya telah hidup berdampingan di Tanah Laut. Keberagaman itu kemudian dipertemukan dalam satu panggung melalui TEC 2026.
“Perbedaan inilah yang menjadi kekuatan kita. Kita memiliki beraneka ragam suku dan budaya, tetapi semuanya bisa bersatu dalam satu kegiatan. Inilah makna dari tema Unity in Diversity,” tegasnya.
Selain menjadi ruang ekspresi budaya, TEC 2026 juga menjadi panggung kreativitas masyarakat, khususnya generasi muda.
Beragam busana dan kreasi yang ditampilkan peserta tidak hanya memperlihatkan kemampuan dalam mengolah estetika, tetapi juga menyampaikan pesan tentang kekayaan budaya daerah yang perlu terus dirawat.
Rahmat menegaskan, pembangunan daerah tidak boleh hanya diukur dari pembangunan fisik dan infrastruktur. Penguatan sumber daya manusia, seni, budaya dan kreativitas masyarakat juga menjadi bagian penting dari pembangunan Tanah Laut.
“Bersama H. Muhammad Zazuli, kita membangun Tala secara bersama-sama. Kita membangun sumber daya manusia, infrastruktur, budaya, kesenian dan semuanya. Semua harus kita gabungkan untuk kemajuan Tala dan Kalimantan Selatan,” tegasnya.
Kompetisi dalam Tanah Laut Ethnic Carnival 2026 juga menghasilkan sejumlah peserta terbaik dari berbagai kategori.
Untuk kategori SKPD, Juara I diraih Kecamatan Takisung.
Sementara kategori sekolah, posisi Juara I berhasil direbut SMK Negeri 1 Takisung.
Adapun kategori organisasi, Juara I diraih Lintang Kencana.
Kemeriahan TEC 2026 sekaligus menjadi penanda bahwa keberagaman budaya di Tanah Laut bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan energi yang terus hidup dan dapat menjadi kekuatan untuk membangun masa depan daerah.
Dari jalanan Pelaihari, pesan itu mengemuka dengan jelas: berbeda budaya, tetap satu dalam kebersamaan. (MN)


















