Digelar di Pondok Wisata Tambak Yudha Banjarmasin, pertemuan ini menjadi momentum mempererat persaudaraan sekaligus menjaga jejak sejarah kampung bagi generasi penerus.
BANJARMASIN, POSTKalimantan – Ada yang datang membawa kenangan, ada yang membawa cerita masa lalu, dan ada pula yang datang untuk kembali mengenal akar sejarah tempat mereka tumbuh.
Suasana penuh keakraban dan kekeluargaan itulah yang terasa dalam Silaturahmi Paguyuban Warga Tunjung Maya, yang digelar untuk pertama kalinya di Pondok Wisata Tambak Yudha, Jalan A Yani Km 5, Komplek Dharma Praja, Dharma Bhakti V, Banjarmasin, Minggu (13/9/2026).
Kegiatan tersebut mempertemukan warga Tunjung Maya dari berbagai latar belakang dan lintas generasi. Tidak hanya warga yang hingga kini masih berdomisili di lingkungan Tunjung Maya, tetapi juga mereka yang telah tinggal dan beraktivitas di berbagai wilayah di luar Banjarmasin.
Pertemuan ini sekaligus menjadi momentum memperingati perjalanan sejarah Tunjung Maya yang memasuki usia ke-73 tahun, terhitung sejak 13 September 1953 hingga 13 September 2026.
Bagi warga, angka 73 tahun bukan sekadar hitungan usia. Di dalamnya tersimpan perjalanan panjang sebuah kampung, lengkap dengan kisah para pendahulu, dinamika kehidupan masyarakat, serta ikatan kekeluargaan yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Karena itu, silaturahmi perdana tersebut tidak sekadar menjadi ajang berkumpul dan melepas rindu. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi ruang untuk kembali menyambungkan tali persaudaraan sekaligus merawat ingatan kolektif tentang sejarah Tunjung Maya.
Mempertemukan yang Lama dan yang Baru

Ketua RT 03 Tunjung Maya, Abdul Wahab, dalam sambutannya menyampaikan rasa syukur karena kegiatan perdana tersebut dapat terlaksana dengan baik.
“Alhamdulillah, hari ini kita dapat berkumpul bersama dalam acara perdana memperingati hari jadi Tunjung Maya yang ke-73 tahun,” ujarnya.
Menurut Abdul Wahab, kegiatan tersebut memiliki arti penting karena mampu mempertemukan warga yang selama ini berada di tempat berbeda.
Silaturahmi, katanya, diharapkan mampu mempererat rasa kekeluargaan dan kerukunan seluruh warga Tunjung Maya, baik yang masih tinggal di lingkungan RT 03 maupun mereka yang kini berdomisili di luar daerah.
“Semoga momentum ini semakin mempererat rasa kekeluargaan dan kerukunan seluruh warga Tunjung Maya, baik yang saat ini berdomisili di dalam lingkungan RT maupun warga yang berada di luar,” tuturnya.
Ia juga berharap kegiatan perdana tersebut dapat menjadi awal dari berbagai kegiatan positif lainnya pada masa mendatang.
“Semoga langkah awal pada acara perdana ini menjadi pembuka untuk kegiatan-kegiatan yang lebih baik, lebih meriah dan lebih bermanfaat lagi di tahun-tahun mendatang,” katanya.
Abdul Wahab turut menyampaikan apresiasi kepada seluruh warga yang telah meluangkan waktu untuk hadir dan berpartisipasi.
Ia berharap Kampung Tunjung Maya senantiasa berada dalam suasana aman, rukun dan harmonis, dengan hubungan kekeluargaan yang semakin kuat.
Merawat Sejarah Kampung

Sementara itu, tokoh masyarakat sekaligus warga Tunjung Maya RT 03, Junaidi, menilai pertemuan tersebut memiliki makna yang jauh lebih besar daripada sekadar kegiatan kumpul bersama.
Menurutnya, Tunjung Maya memiliki perjalanan sejarah yang cukup panjang. Karena itu, keberadaan paguyuban dan kegiatan silaturahmi menjadi salah satu cara untuk menjaga hubungan antargenerasi.
“Ini adalah acara pertama yang diadakan secara kolektif seperti ini. Jika dihitung, umur kampung kami sudah sekitar 73 tahun,” ungkap Junaidi.
Ia mengatakan, salah satu hal yang menarik dari kegiatan tersebut adalah bertemunya para sesepuh dengan generasi yang lebih muda.
Pertemuan lintas generasi itu dinilai penting agar anak-anak muda tidak kehilangan hubungan dengan sejarah dan lingkungan tempat para pendahulunya membangun kehidupan.
“Momen ini sangat berharga bagi warga, terutama bagi generasi muda yang mungkin belum banyak mengetahui sejarah tempat tinggal mereka. Kami juga ingin mengenang sejarah orang tua dan para pendahulu yang telah membangun dan menghidupkan Tunjung Maya hingga saat ini,” jelasnya.

Bagi Junaidi, sejarah sebuah kampung tidak hanya tercatat dalam dokumen. Sejarah juga hidup melalui cerita para orang tua, pengalaman para sesepuh dan hubungan kekeluargaan yang terus diwariskan.
Karena itu, silaturahmi semacam ini diharapkan dapat menjadi jembatan agar cerita tentang Tunjung Maya tidak berhenti pada satu generasi.
Sesepuh Jadi Pengikat Memori Kolektif
Kehadiran para sesepuh menjadi salah satu bagian penting dalam kegiatan tersebut.
Salah satu warga paling sepuh yang hadir, Angah Ruslan, yang diperkirakan berusia sekitar 77 tahun, turut menjadi bagian dari pertemuan lintas generasi itu.
Kehadiran para sesepuh seolah menjadi pengingat bahwa perjalanan Tunjung Maya dibangun oleh banyak tangan dan melalui proses panjang.
Generasi sekarang pun memiliki tanggung jawab untuk melanjutkan nilai-nilai positif yang telah ditanamkan para pendahulu, terutama semangat gotong royong, kepedulian, kerukunan dan rasa kekeluargaan.
Kemeriahan acara semakin terasa ketika warga bersama-sama mengabadikan momen melalui foto bersama. Senyum, sapaan dan canda antarsesama warga menggambarkan kuatnya ikatan emosional yang masih terjaga meski sebagian di antara mereka telah lama tinggal di luar daerah.
Marsuni: Ini Bukan Sekadar Pertemuan, tetapi Menyatukan Kembali Ikatan Warga
Ketua Panitia Pelaksana (Panlak), Marsuni, menyampaikan apresiasi dan rasa syukur atas antusiasme warga yang menghadiri kegiatan tersebut.
Menurutnya, terselenggaranya silaturahmi perdana ini merupakan hasil dari semangat bersama untuk kembali mempertemukan warga Tunjung Maya yang selama ini tersebar di berbagai tempat.
“Bagi kami, kegiatan ini bukan sekadar sebuah pertemuan, tetapi merupakan upaya untuk menyatukan kembali hati, kenangan dan rasa kekeluargaan warga Tunjung Maya. Jarak dan kesibukan boleh membuat kita tinggal di tempat yang berbeda, tetapi ikatan sebagai warga dan bagian dari sejarah Tunjung Maya jangan sampai terputus,” ujar Marsuni.
Ia menambahkan, kegiatan tersebut diharapkan menjadi awal lahirnya tradisi silaturahmi yang dapat dilaksanakan secara berkesinambungan.
“Kami ingin menjadikan momentum ini sebagai langkah awal. Ke depan, mudah-mudahan silaturahmi ini dapat terus berkembang, melibatkan lebih banyak warga dan menjadi ruang bersama untuk mempererat persaudaraan, saling peduli serta mengenalkan sejarah Tunjung Maya kepada generasi berikutnya,” katanya.
Marsuni menilai, kekuatan sebuah komunitas tidak semata-mata terletak pada banyaknya orang yang berkumpul, tetapi pada kemampuan untuk menjaga rasa memiliki terhadap lingkungan dan sejarah yang sama.
“Tunjung Maya bukan hanya sebuah nama tempat. Di dalamnya ada sejarah, ada kenangan, ada perjuangan orang tua kita dan ada ikatan kekeluargaan. Tugas kita sekarang adalah menjaga semua itu agar tetap hidup dan diwariskan kepada generasi mendatang,” tegasnya.
Ia juga menyampaikan terima kasih kepada seluruh warga, para tokoh masyarakat, sesepuh serta semua pihak yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan tersebut.
Menjadikan Silaturahmi sebagai Tradisi
Antusiasme warga dalam kegiatan perdana ini menjadi modal penting bagi Paguyuban Warga Tunjung Maya untuk melangkah lebih jauh.
Ke depan, silaturahmi diharapkan tidak hanya menjadi agenda tahunan, tetapi berkembang menjadi wadah kebersamaan yang mampu menghadirkan berbagai kegiatan sosial, budaya dan kemasyarakatan.
Semangat tersebut sejalan dengan harapan warga agar Tunjung Maya tetap menjadi lingkungan yang aman, rukun dan penuh rasa kekeluargaan.
Sebab pada akhirnya, perjalanan 73 tahun Tunjung Maya bukan hanya tentang bertambahnya usia sebuah kampung, tetapi juga tentang bagaimana generasi hari ini menjaga warisan persaudaraan yang telah dibangun para pendahulu.
Dari para sesepuh, generasi muda belajar tentang masa lalu. Dari generasi muda, harapan masa depan dititipkan.
Dan di antara keduanya, silaturahmi menjadi jembatan yang menjaga Tunjung Maya tetap hidup dalam ingatan, kebersamaan dan hati warganya. (MN)


















