Masuk Desil 3, Alpisah Bertahan di Rumah Tak Layak Huni, Harapkan Perhatian Pemkab Tala

Dinding kayu lapuk, atap seng berkarat dan bocor menjadi gambaran kondisi tempat tinggal warga Desa Gantung Besar, Kecamatan Pelaihari. Program bedah rumah diharapkan dapat menjangkau keluarga yang membutuhkan.

PELAIHARI, POSTKalimantan – Di tengah upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat, persoalan rumah tidak layak huni masih menjadi pekerjaan yang membutuhkan perhatian bersama. Salah satu potret tersebut terlihat dari kondisi tempat tinggal Alpisah (32), warga Jalan Pandalarak RT 002/RW 001, Desa Gantung Besar, Kecamatan Pelaihari, Kabupaten Tanah Laut.

Perempuan kelahiran 15 Maret 1994 itu kini menjalani kehidupan bersama keluarganya di sebuah rumah kayu yang kondisinya jauh dari kata layak. Bangunan sederhana tersebut tampak mengalami kerusakan di sejumlah bagian, mulai dari dinding hingga atap.

Hasil penelusuran di lapangan pada Kamis (30/10/2026) memperlihatkan kondisi rumah yang cukup memprihatinkan. Dinding papan kayu terlihat lapuk dan rapuh. Sebagian bagian bangunan bahkan hanya ditutup menggunakan lembaran seng berkarat dan terpal seadanya.

Kondisi atap yang juga terbuat dari seng tampak mengalami kerusakan dan kebocoran. Ketika hujan turun, air dapat masuk ke dalam rumah. Sementara saat angin kencang, kondisi bangunan yang sudah rapuh menimbulkan kekhawatiran tersendiri bagi penghuninya.

Dalam kunjungan tersebut, tim media berkesempatan bertemu langsung dengan Alpisah. Pertemuan itu turut didampingi Sekretaris Desa Gantung Besar sehingga kondisi tempat tinggal dan situasi yang dihadapi keluarga tersebut dapat disaksikan secara langsung.

Dari sisi sosial ekonomi, Alpisah tercatat dalam kelompok Desil 3 pada data kesejahteraan sosial. Kategori tersebut merupakan bagian dari kelompok masyarakat dengan tingkat kesejahteraan relatif rendah yang perlu mendapatkan perhatian dalam penyaluran berbagai program perlindungan dan bantuan sosial.

Dengan keterbatasan kemampuan ekonomi, Alpisah belum memiliki kesempatan untuk memperbaiki rumahnya secara mandiri. Kondisi tersebut membuat harapan mendapatkan bantuan rehabilitasi rumah menjadi salah satu jalan untuk memperoleh tempat tinggal yang lebih aman dan nyaman bagi keluarganya.

Ia berharap Pemerintah Kabupaten Tanah Laut dapat memberikan perhatian terhadap kondisi yang dialaminya, melalui dinas terkait, khususnya Dinas Perumahan Rakyat, Kawasan Permukiman dan Lingkungan Hidup (DPRKPLH), maupun lembaga lain seperti Badan Amil Zakat Nasional (Baznas).

Program Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS), bedah rumah, ataupun Rehabilitasi Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) diharapkan dapat menjadi salah satu solusi apabila keluarga tersebut memenuhi persyaratan dan hasil verifikasi lapangan.

“Ulun berharap ada bantuan bedah rumah. Kalau hujan bocor, kalau angin kencang takut roboh. Mudah-mudahan ada rezeki dari pemerintah,” ungkap Alpisah dengan nada haru.

Harapan serupa juga disampaikan agar program bantuan perumahan pemerintah benar-benar menjangkau masyarakat yang membutuhkan berdasarkan kondisi riil di lapangan.

Persoalan rumah tidak layak huni bukan semata-mata tentang kondisi fisik bangunan, melainkan juga menyangkut keselamatan, kesehatan, serta kualitas hidup keluarga yang menempatinya.

Kini, Alpisah masih menaruh harapan agar kondisi rumahnya mendapat perhatian dan dapat diusulkan dalam program rehabilitasi rumah. Baginya, memiliki hunian yang kokoh, aman, dan tidak lagi bocor saat hujan merupakan impian sederhana yang sangat berarti.

Perhatian dan tindak lanjut dari pemerintah daerah serta instansi terkait diharapkan dapat membuka jalan bagi Alpisah dan keluarga untuk menikmati tempat tinggal yang lebih layak. (MN)